Loading...

VISIT MY NEW WEBSITE

VISIT MY NEW WEBSITE : seeroy.com

MY VIDEOS

MY VIDEOS

VIDEOS OF ME

Loading...

ABOUT ME

My Photo
Jakarta, Jakarta, Indonesia
Just wanna answer a calling called 'music' :)

MY MUSIC

MY MUSIC

Songs by me, You may select the song title on the list below and press 'PLAY' button to hear my music. http://soundcloud.com/si_royharischandra

SONGS BY ME on http://soundcloud.com/si_royharischandra

VISIT MY NEW WEBSITE

VISIT MY NEW WEBSITE : seeroy.com

SEEROY.COM

MENYOAL ACARA MUSIK (live) TV YANG DI SELENGGARAKAN DI SEKOLAH, PADA JAM BELAJAR-MENGAJAR

** dikutip dan disadur dari tulisan di note facebook saya, hehe **


Mungkin anda dan juga saya pernah/sering/rutin menyaksikan ACARA-ACARA live MUSIK TELEVISI YANG diselenggarakan dan DISIARKAN LANGSUNG di sekolah-sekolah, TEPAT PADA PADA JAM BELAJAR-MENGAJAR. Di antara  banyak orang yang geleng-geleng kepala, saya adalah juga salah satu orang yang tak habis pikir tentang bagaimana (standar) prosedur, sistem, tata cara dan tata lakasana terselenggaranya agenda bukan resmi bernuansa entertainment tersebut. Yang sepenuhnya kita sadari hanyalah : bahwa media akan selalu berusaha keras sekuat tenaga untuk memasyarakatkan produk-produknya, seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya ; DENGAN BENTUK DAN CARA APAPUN.

Tampaknya pihak-pihak produsen memang sengaja sekali mengincar segmen remaja di usia-usia ini, karena pemuda-pemudi pada fase remaja ini memang mudah sekali di-'kutak-katik', diprovokasi, dicekok di-promosi ; fase belum stabil alias labil. Dan kebanyakan agenda stasiun tv semacam inipun dilangsungkannya di lembaga pendidikan jenjang SLTP samapi SLTA, tidak hanya itu bahkan juga di lokasi perkantoran (pada jam kerja ; produktif). Kalau diselenggarakan di SD atau TK, lantas apa untungnya??? Mungkin begitu cara berpikir mereka ; produsen.

Apalagi dengan fenomena dan realitas lip-sync alias lip syncronize, yakni penampilan dengan iringan musik yg di PLAYBACK (laksana KARAOKE-an) ; alias nyanyi + ng'band BO'ONGAN....Sadar atau ga sadar, KITA SEDANG DAN SELALU DIBOHONGI. Lagi-lagi saya terkena sindrom "tak habis pikir" lagi.
Pertunjukan musik kok disamakan dengan mutar lagu di player audio sih. Mencari aman budget dalam produksi...yeah that's right. Dan kita selalu pasrah dibohongi. Aneh, hahaha.

Mungkin juga banyak dari para guru, kepala sekolah, pembina yayasan, murid, wali murid dsb yang berpikir hanya dari aspek promosi sekolah dan segala segi komersil belaka. Sungguh sebuah sudut pandang yang DANGKAL dan kampungan, ujar salah seorang teman di faceebook. Lembaga pendidikan bukanlah kios dagang Bu, ajaran-didikan juga bukanlah produk kemasan Pak! Kalau GURU/PENDIDIK hanya berpikir dari sudut pandang untung-rugi, lebih baik ga usah jadi guru, mending jadi PEDAGANG kios pasaran aja. Jangan salah tempat...salah waktu.

Ingat pula,,,,"GURU KENCING BERDIRI MURID KENCING BERLARI". Salam hormat dan takzim berikut doa kami untuk para PAHLAWAN TANPA TANDA JASA. Tapi.....Jam belajar kok diisi dengan HIBURAN ??? Jam mengajar kok di isi PROMOSI ??? PRODUKTIF kok diisi dengan HURA-HURA, KETAWA-KETIWI, HaHaHa HiHiHi ?? Ini jauh sekali dari spirit PENDIDIKAN. Sungguh at the WRONG TIME...AND jelas-jelas EXCATLY WRONG PLACE. Wahai adik-adik pelajar : "Hidup bukan hanya untuk tertawa..hirup udara bukan untuk senang saja". 

JAM BELAJAR-MENGAJAR. Ingat.....Ini jam belajar-mengajar Mas, Mbak, Pak, Bu, Om, Tante ; (TV) !!!! Agenda-agenda ini lebih banyak MINUS-nya ketimbang PLUS-nya. Tega-teganya kalian. WAHAI PARA MURID, GURU, KEPALA SEKOLAH, PEMBINA YAYASAN, WALI MURID, PIMPINAN LEMBAGA, DINAS PENDIDIKAN DAN APARATUR TERKAIT..... "SADARLAH !!!"..."SADARLAH !!!".."SADARLAH !!!"

MARI KITA PEDULI KECERDASAN BANGSA...."TERUS PEDULI....DAN LEBIH PEDULI LAGI"

MUSIC VACANCY

VACANCY - Dicari VOKALIS pria/wanita, berpenampilan menarik, berkarakter, supel, all around, bersedia bekerja dalam tim, diutamakan yg suka genre rock/progressive/symphonic/metal, suka begadang, rajin mengopi, berwawasan luas, berdaya juang tinggi, mengerti organisasi, gemar menulis, mengerti sastra, gagah/tomboy, murah senyum, ringan tangan, baik hati, rajin menabung & tidak sombong, intelektualitas ok, leadership ok, bersedia ditempatkan atau siap berada di mana saja, banyak relasi, jaringan luas, bersedia kerja dbawah tekanan, siap memimpin & dipimpin. Dan bersedia diposisikan sebagai khayalan, siap ditempatkan dalam IMPIAN ,,, karena tentu sosok seperti dlm note ngawur ini hanya ada dlm imaji dan angan-angan. No body perfect, n it is including me :) Tapi ..... "Lowongan ini serius", tersedia juga buat posisi bass, keyboard, drum, composer, arranger, sound engineer, manajer, label dan produser, Hahahaha #meski ini hanya untuk lucu_lucuan ( tp sampel lagu2nya mmg ada di FB Music/Band Page-ku, he2. Terimakasih banyak ya atas kesediaannya menyimak & membaca tulisan ini :) 

GBU Sincerely, me # full band n instrumental 

KEEP IT BALANCE

 
KEEP IT BALANCE - Apa-apa yg berkutat di wilayah kepala sebagai intelektualitas (baca : wacana diskursif) memang senantiasa diperlukan, tetapi seyogyanya tetap harus berjalan beriringan dengan pematangan praktik lapangan atau senantiasa berbasis terapan. Berkesenian musik, sebagai bagian dari berkebudayaan tidaklah dapat didekati dengan satu atau dua pendekatan saja, semisal didekati dari sudut dunia artistik bebunyian atau ilmu akademis musik itu sendiri : musik sebagai hal yg otonom saja/musik secara ilmiah musik. Atau sebaliknya, menggunakan multidimensional approach dan pendekatan interdisiplin yang terkadang seolah menafikan disiplin ilmiah kesenian musik itu sendiri yg harusnya berdiri sebagai satu pendekatan utama, bahkan terutama : karena itu memang bidang serta disiplin yg sedang didekati. Jika menggunakan pendekatan yang proporsional dan berimbang, maka dengan demikian komprehensifitas diskursus dan tanggung jawab lapangan dapat terpenuhi. Sinergi yg baik antara keduanya membuat seorang subjek pelaku dapat dikatakan sebagai "profesional". 

Profesional adalah ahli, bukan semata-mata menyangkut soal antara 'kerja dgn bayaran' saja. Deep, wide and focus (baca : benar-benar menguasai bidang, luas wawasan/intelektual dan total bergelut). Untuk itu, mari berikan asupan yg benar dan baik bagi otak di kepala tetapi jangan lupa pula berikan porsi seimbang kepada jari jemari, tangan kaki, pita suara, katup dada dan rongga jiwa yang seharusnya 'lebih banyak mendapat jatah bertindak dan porsi berbicara'. Dengan demikian terbukalah kemungkinan bahwa dunia musik pada umumnya akan berdiri secerdas dunia teater atau dunia sastra, dan juga 'dunia-dunia cerdas' lainnya. Sekali lagi, untuk para pelaku kesenian musik : KEEP IT BALANCE. I'm so sorry n thanks :) ^_^

ROCK, SOUND AND SOCIAL MOVEMENT

oleh : Roy Haris Chandra

FENOMENA BESAR ABAD 20 : (R)EVOLUSI MUSIK, ROCK DI GARDA DEPAN   

Rock adalah suatu “konteks, tema,watak, karakteristik, paham, aliran, sistem, teknik, jenis, tipe, model, kategori, corak, warna, rupa, bentuk dan gaya musikal”, lahir dan berkembang di benua Amerika.  Mayoritas pendapat mengatakan bahwa awal kemunculannya adalah pada kuartal pertama dari abad ke-20. Sebagaimana banyak jenis musik lainnya di Amerika, ibu kandung musik rock adalah blues, yang merupakan“anak nakal”-nya musik (ballad) klasik. Oleh karena itu, membahas rock berarti juga membicarakan blues ; sebagai akar “musik populer” (Amerika). Musik blues berakar dari musik tradisional belahan barat Afrika yang dipadu padankan dengan tradisi musik klasik Eropa-Kristiani ; sebagai budaya yang di anti-tesa-kannya(baca : diberontak). Blues juga dimaksudkan sebagai bagian dari upaya melawan hegemoni Eropa, kultur dominan pada masa itu. Sekurang-kurangnya, pemberontakan dengan cara (dan dalam hal) artistik. Menentang “Kristen”, melawan estetikanya; dalam nuansa pergerakan yang kooperatif. Di era rasisme tersebut blues tidakhanya sebuah tipe musik tapi juga bentuk pola pikir dan jalan hidup bagi banyakAfro-Amerika (masyarakat kelas pekerja/budak, yang konon mayoritasnya muslim) di era itu. Blues menjadi medium ekspresi dan gaya musik yang khas dan mandiri ditengah pertentangan borjuis-proletar. Kemunculan dan perkembangan musik rockjuga tidak bisa dilepaskan dari blues serta dinamika pergerakan sosial masyarakat kulit hitam di Amerika. Pada perkembangannya, blues kemudian tidak hanya terbatas bagi mereka yang Afro-Amerika saja, tapi juga digemari di kalangan kulit putih  (meski diapresiasi/difungsikan secara eksklusif, serampangan). Walhasil, “milik kulit hitam” tersebut lagi-lagi “dirampas”kulit putih, bolak-balik dibawa dari Amerika ke Inggris dan sebaliknya.

ANTARA "...waladhoolliin" dan "aamiin"

Tilawah imam tmpt saya bermakmum terlantun dgn baik dlm kerangka skala minor harmonik. Pada kisaran nada-nada yg kental dialektika timur-barat itulah beliau menegaskan ayat-ayat suci dlm balutan tempo santai dan dinamika sedang. Terdengar sangat damai dan menenangkan. Dan tibalah sang imam pada penghujung phrase dlm Ummul Qur'an : yg mensunnatkan jamaah untuk menggaungkan amin, tdk terkecuali saya. Serentak gemuruh aminpun menggema.

Saya turut lantang mengamini meski dgn suara datar tanpa intonasi. Benar2 seperti murni ''mengucap" kata, tanpa dihiasi nada. Bacaan imam yg melengking cukup tinggi menjadikan 'amin' para makmum trdengar tidak sama rata dlm nada. Terjadi semacam missunderstanding dan dispersepsi antara '.. waladhoolliin' imam dgn 'amin'-nya makmum. Ini mungkin saja mnjd pengalaman unik bagi sebagian hadirin yg berjamaah disana, stdknya buat saya sbg slh satunya. Slepas jumatan, sy cb mngingat2 kembali fenomena unik dlm agenda wajib berjamaah tersebut, untuk ditelaah dan untuk mencari hikmah tentunya.


Sejujurnya, tadi saya mmg agak kesulitan meng-amini sebagaimana lazimnya. Mmg agk sukar bagi makmum berjenis suara bariton tanggung sprti saya ini untuk 'in tune' dlm tilawah imam yg (mnrt dugaan saya) berjenis (suara tinggi) tenor1 itu. Sementara tilawah itu dilantunkan pada nada dasar yg dirasa 'krg netral', yakni la = F#. Tak ada masalah pd sisi imam. Adalah sgt alami bhw kita gandrung trhdp enaknya bunyi, keindahan suara. Soal kait mengait dan persinggungannya dgn ritual peribadatan, kerohanian dan lain sbagainya itu tentu lain cerita.

Dan kecenderungan kurang baiknya adalah bhw kita kerap menentukan figur pemimpin ibadah shalat berjamaah kita hanya berdasarkan indahnya lantunan lagu atau bakat artistiknya saja. Padahal tak ada satupun kriteria, kategori dan syarat (mnjd imam) yg berkaitan lgsg dgn hal itu : (aspek seni). Nada-irama dan bakat seni yg melekat pada seorg muslim yg layak diangkat sbg pemimpin shalat bukanlah hal yg utama, bukankah yg terpenting adalah spiritualitas (baca : keshalihan) dan sebesar apa kepercayaan kita untuk mmberinya amanah besar itu, dan tentu saja mmprhitungkan lisannya (fashohah). Melantunkan ayat dgn datar-pun akan tetap benar dan selalu sah. Maka meng-amini dgn 'datar saja' merupakan reaksi cepat dan keputusan tepat bg saya dalam jumatan yg indah siang tadi. Untuk tdk menyikapinya secara 'terlalu artistik, scientifik, apalagi musikal'. Allahummahdina, amin #hikmah_jumat

(: Sedia 'tuner' sblm hujan :)

https://www.facebook.com/notes/si-roy-haris-chandra/antara-waladhoolliin-dan-aamiin/

SEGUDANG TANYA DALAM (BER)KARYA


UNTUK APA?

Untuk apa sebuah lagu diciptakan? Untuk apa anda menciptakan lagu? Haruskah diperdengarkan kepada orang lain? Untuk apa karya musik tersebut dikomunikasikan? Apa tujuan pengkomunikasiannya? Apa motif di balik penyuaraan ide dan penyebarluasan gagasan anda? Demi apa? Kenapa tidak untuk diri sendiri saja? Mengapa harus dibagikan? Apa dampak bagi orang yang mendengarkannya? Apa hikmahnya? Adakah tujuan umum dan tujuan khusus anda? Apakah demi kepuasan batin? Apakah untuk kepuasan lahiriah-telinga? Ataukah pelampiasan? Atau sebagai suplemen bagi jiwa? Apakah dalam rangka memperoleh kenikmatan? Atau mencari nilai tukar? Apakah untuk memuaskan hasrat nafsu? Apakah untuk berkomunikasi batin dengan pendengar? Apakah anda ingin membisikkan sesuatu di telinga mereka? Apakah anda ingin menyentuh hatinya? Apakah anda ingin membangun kesadaran? Apakah dalam rangka saling mengingatkan dalam kebaikan dan kebenaran? Apakah untuk mengkritik sesuatu? Apakah anda ingin memarahi? Atau hendak memberitahu bahwa ada sesuatu yang salah atau keliru? Apakah untuk mengajarkan sesuatu? Apakah hendak menggurui? Apakah seperti menghakimi? Atau memberikan putusan? Apakah bermaksud memvonis? Apakah anda ingin memberi sanksi? Atau ingin memberi suri tauladan? Apakah lagu ditujukan untuk penyadaran? Apakah anda menawarkan sebuah perenungan? Apakah anda ingin menyetujui, menegaskan atau membela sesuatu? Apakah ada udang di balik batu? Apakah dimaksudkan sebagai bentuk antipati, ketidaksetujuan, pembangkangan atau perlawanan anda terhadap sesuatu? Apakah pendengar mendapatkan hal-hal positif dari menyimak lagu anda?

APA INTINYA?

Apakah lagu tersebut penting bagi anda dan orang lain? Seberapa pentingnya? Apa sesuatu yang terdalam yang terdapat pada lagu anda?  Apa nilai-nilai yang terkandung di dalamnya? Apakah anda puitis? Ataukah ceplas-ceplos? Apakah lagu anda sama seperti sebuah informasi atau pelaporan berita? Atau lagu anda adalah sebuah pelimpahan rasa, suatu pengutaraan isi hati, buah ekspresi, berbagi kisah, curhat, ngember, berkeluh kesah dan lain sejenisnya? Apakah berita atau curhat dan uneg-uneg tersebut memang benar-benar penting untuk diketahui/didengar orang lain? Apa manfaatnya bagi pendengar? Apa segi positifnya? Adakah dampak buruk darinya? Apakah berbahaya? Apakah anda ingin pendengar menjadi lebih baik dengan adanya lagu anda? Inginkah anda membuat pendengar menjadi lebih buruk? Apakah anda ingin membuat pendengar menjadi marah, beringas atau kesetanan? Atau anda inginkan yang sebaliknya? Apakah anda berpikir bahwa tidak hanya manusia saja yang mendengarkan lagu? Ingatkah anda bahwa hewan dan makhluk halus juga mendengar? Tahukah anda bahwa benda-benda mati apapun di sekitar kita juga terkena gelombang suara musik? Apakah anda ingin menunjukkan siapa diri anda melalui lagu yang anda buat? Apakah karena lagu tersebut anda ingin dibilang pintar, hebat, gagah atau keren? Lewat lagu, sebenarnya anda ingin bilang apa? Berpesan apa? Ingin dibilang apa? Adakah kebaikan yang anda tawarkan? Adakah kebenaran yang anda ungkap? Apa substansi lagu anda? Apa esensinya? Apa hakikatnya? Apakah anda sudah tahu tentang apa itu lagu yang baik dan bagaimana cara menghasilkannya?

KEPADA SIAPA DITUJUKAN?

Mengapa anda ingin menyebarluaskannya? Apa dampak bagi orang yang mendengarkannya? Apa-apa saja yang akan diserap oleh pendengar? Apakah lagu anda ditujukan bagi kebanyakan orang? Atau untuk kalangan khusus tertentu? Setelah mendengarkan lagu tersebut, Anda ingin pendengar itu menjadi bagaimana? Apakah pendengar mendapatkan hal-hal positif setelah mendengarkannya? Atau sebaliknya? Pedulikah pendengar akan apa-apa yang terkandung di dalam lagu anda? Pedulikah anda terhadap cara mengapresiasi musik yang baik? Bagaimana jika tidak ada yang mau/malas mendengar? Bagaimana jika ada yang tidak setuju atau banyak yang tidak suka dengan lagu anda? Bagaimana jika apa yang anda maksudkan dalam lagu justru berbeda dengan apa yang pendengar tangkap? Bagaimana jika pesan-pesan anda banyak yang terlewat? Apakah anda ingin diapresiasi? Apakah anda ingin dihargai?

BAGAIMANA MEMBUATNYA?

Apakah lagu tersebut terjadi dengan sendirinya? Apakah lagu anda adalah sebuah kebetulan? Apakah lagu tersebut lahir, mengalir dan tercipta begitu saja tanpa dicari atau ditemukan? Apakah nada dan atau liriknya didapat dari gigihnya berolah pikir dan berolah rasa? Ataukah mengalir begitu saja? Apakah anda berpikir keras ketika menggagas lagu? Apakah anda takut, malu, tertekan ketika membuatnya? Ataukah anda biasa-biasa saja? Apakah dalam penggarapannya menghabiskan banyak waktu? Apakah anda selalu menginginkan hasil yang sempurna? Apakah anda terburu-buru mengerjakannya? Apakah anda serius, cermat dan teliti ketika menggarapnya? Atau lebih banyak masa bodo atau terserah diri sendiri saja? Kapan dan di mana anda membuatnya? Kapan waktu yang tepat dan di mana ruang yang pas untuk mendengarkan karya anda? Jam berapa? Di mana? Harus mendengar sendirian atau boleh juga bersama orang lain? Dengan cara apa lagu tersebut sampai ke telinga pendengar?

(: ditulis dalam rangka mengingatkan & menyemangati diri sendiri :)

Terlepas dari bagaimanapun juntrungan-hasil akhirnya, pastikan bahwa karya  musik kita senantiasa mengandung nilai-nilai positif ; bertujuan luhur, bersifat membangun, mencerdaskan dan memanusiakan manusia. Bukan malah sebaliknya :) Mari terus berkarya. ^_^
 

VISIT MY NEW WEBSITE

BLOG COMMENTS

There was an error in this gadget